
Di negeri Indonesiakita tercinta ini, merokok bukan hal yang dilarang. Bebas mau merokok di mana saja, kapan saja. Iklan rokok -meskipun tidak boleh mempertontonkan adegan menghisap rokok secara eksplisit- berjamur di mana-mana. Akibatnya, tak sedikit dari pemuda Indonesiaini yang terkena imbasnya. Tercatat, 80 % perokok Indonesiaberusia kurang dari 19 tahun berdasarkan survei ITCN (International Tobacco Control Network) pada tahun 2007. Sedangkan, dalam survei yang sama, perokok umur 5-9 tahun mendapatkan persentase 0,4 persen pada tahun 2001 dan meningkat menjadi 1,8 persen pada tahun 2004. (Antara News) Pemerintah sebenarnya telah mengambil langkah untuk mengatasi hal ini. Namun, nampaknya langkah pemerintah ini kurang greget. Tulisan yang wajib tercantum dalam bungkus dan iklan rokok, justru menjadi kotak pandora yang semakin membuat penasaran benar nggak sih peringatan itu, Fulan si tetangga sehat-sehat saja kok, mbah-mbah yang di kampung sebelah juga masih bugar meski nggak absen menghisap rokok. Tambah lagi bombardir iklan yang terpampang di ruas jalan-jalan utama. Nah lo…
Fakta Berbicara
Jangan buru-buru berbaik sangka dengan rokok. Mungkin dilihat sekilas tidak ada pengaruhnya. Tapi, bukti penelitian yang dilakukan 10 tahun terakhir, 50 persen perokok meninggal akibat kecanduan. Demikian pula, kematian disebabkan kanker, penyakit jantung dan pernafasan kronis adalah penyebab utama kematian akibat rokok. (Survei Sosial Ekonomi Nasional: 2004).
Penyakit yang ditimbulkan oleh asap mematikan ini tak lepas dari kandungan-kandungannya yang beracun. Bayangkan, 4000 zat racun masuk ke dalam tubuh dengan sekali isap. Di antara zat racun itu adalah:
1. Nikotin.
Nikotin adalah zat yang paling sering disebut sebagai bahan racun dalam rokok. Dengan dosis besar, nikotin bisa digunakan sebagai pestisida. Penelitian menunjukkan, nikotin bisa meracuni saraf tubuh, meningkatkan tekanan darah, dan menyebabkan ketagihan. Dengan 4-6 mg nikotin, seseorang bisa ketagihan. Faktanya, minimal kadar nikotin dalam rokok filter di Indonesia adalah 0,9 mg per batang. (Budi Hartono, dkk, Jurnal Makara: Penentuan Kadar Nikotin Dalam Asap Rokok, 2003). Sementara, pemerintah menetapkan 1,5 mg per batang adalah batas maksimal kandungan nikotin dalam rokok. Berarti, jika seseorang mengonsumsi 20 batang rokok seharinya, minimalnya dia telah memasukkan sebesar 18 mg zat racun ini ke dalam tubuhnya.
2. Karbon Monoksida (senyawa CO)
Karbon monoksida adalah gas yang dihasilkan dalam pembuangan kendaraan bermotor. Senyawa ini timbul akibat reaksi pembakaran yang tidak sempurna. Karbon monoksida mengikat hemoglobin di dalam darah merah yang bertugas mengangkut oksigen. Akibatnya, hemoglobin tidak bisa mengikat oksigen untuk didistribusikan ke seluruh tubuh dari paru-paru.KadarCOdi dalam darah seorang bukan perokok adalah kurang dari 1 persen, tapi untuk perokok, kadar CO-nya di dalam darah mencapai 4-15 persen. Makanya, jangan menangis kalau sesak nafas gara-gara merokok.
3. Tar
Tar adalah kumpulan berbagai komponen padat dalam asap rokok. Tar ini bersifat karsinogenik (menyebabkan kanker). Pada saat dihisap, tar ini berupa uap padat. Kemudian, ketika dingin tar ini berubah menjadi endapan coklat kekuningan di gigi, saluran pernapasan, dan paru-paru.
4. Zat-Zat Berbahaya lainnya
a. Timah hitam (timbal/Pb) adalah zat beracun yang dahulu bisa ditemukan gas buang kendaraan bermotor. Timbal ini mempengaruhi kecerdasan otak, ginjal, sistem saraf, dan sel darah merah. Menurut penelitian, kadar timbal yang masuk ke dalam tubuh berbanding terbalik dengan kadar sel darah merah dalam darah. Artinya, kalau kamu merokok, jangan menyesal terkena anemia kalau kamu merokok.
b. Kadmium (Cd) adalah zat yang sering digunakan dalam pembuatan baterai rechargeable (bisa diisi ulang). Kadmium dikenal sebagai zat yang berbahaya. Uni Eropa menggolongkannya sebagai salah satu zat yang dilarang oleh RoHS (peraturan mengenai zat-zat terlarang yang digunakan dalam barang elektronik). Jepang dahulu sempat merasakan getah pahit kadmium yang tercemar ke lingkungan. Nah, si kadmium ini ternyata ada di dalam asap rokok. Parahnya, ternyata penyerapan kadmium lewat paru-paru lebih efektif daripada penyerapan lewat usus dan lainnya.
c. Kalau kamu berjalan-jalan ke laboratorium sekolah, pernah kamu lihat kodok, ular, atau kalajengking yang direndam suatu cairan. Nah, cairan untuk merendam itu namanya formalin/formaldehid, fungsinya untuk mengawetkan mayat. Ternyata, formalin ini ada di dalam asap rokok. Nah, siapa mau mengawetkan paru-parunya pakai formalin?
d. Naftalen (naphthalene), zat yang sering digunakan sebagai penghilang bau apek pada pakaian (kapur barus) ini, juga ikut menyumbang bahaya asap rokok. Dalam jumlah banyak, naftalen bisa mengakibatkan kerusakan sel darah merah. Selain itu, ternyata menghirup naftalen erat kaitannya dengan kanker, sebagaimana hal ini diketemukan dalam sebuah eksperimen pada tikus.
Bukan cuma itu saja yang kamu dapat dengan menyedot sebatang rokok. Masih ada teman-temannya yang ikut masuk ke tubuh kamu. Dan, semuanya berbahaya.Adayang biasanya buat racun kucing, ada yang biasanya buat cat, ada yang biasanya buat bahan bakar roket. Komplitkan? Mau?
Tinjauan Syariat
Tahu nggak? Syariat mulia yang kamu anut ini melarang segala hal yang berbahaya pada diri kamu. Mulai dari bunuh diri sampai tingkatan mudharat yang rendah, semuanya dilarang oleh agama Islam. Maka dari itu, diharamkan minum minuman keras karena bahaya banget buat kamu. Nggak cuma minum-minuman keras, pokoknya semua yang berbahaya dilarang dalam agama Islam. Allah telah berfirman:
ﮤﮥ ﮦ ﮧ ﮨﮩ
“Dan janganlah kalian lemparkan diri kalian ke dalam kebinasaan.” [Q.S. Al-Baqarah:195]. Di dalam ayat ini, Allah l melarang kita untuk membinasakan diri sendiri. Ayat ini berlaku umum untuk segala tindak membinasakan diri. Mulai dari binasa pelan-pelan sampai binasa dengan cepat.
Kalau ada yang bilang, “Ayat ini kanturun berkenaan dengan menginfakkan harta di medanjihad, Allah l menyebut enggan berinfak di jalan Allah sebagai kebinasaan, silakan lihat awal ayatnya.” Ya, Anda benar bahwa ayat ini turun berkenaan dengan berinfak dalam jihad. Tapi, menurut ilmu Ushul Fiqh, “yang jadi patokan itu keumuman teks dalil, bukan dengan kekhususan sebab.” Artinya, meskipun ayat ini turun berkenaan dengan hal tersebut, namun tekstualnya bersifat umum, “kebinasaan”. Salah satu kebinasaan adalah tidak berinfak dalam jihad, tapi itu bukan semua kebinasaan. Kebinasaan-kebinasaan yang selain ini juga masuk ke dalam larangan ayat ini. Contoh kebinasaan selain tidak berinfak di jalan Allah ada di dalam hadits ini (artinya), “Barangsiapa membunuh dirinya dengan pisau besi, niscaya akan diazab dengannya pada hari kiamat.” [H.R. Al-Bukhari dan Muslim, hadits ini berdasarkan teks Al-Bukhari]. Nah, bunuh dirikan termasuk membinasakan diri, ini dilarang dalam agama, begitu juga lainnya.
Allah juga berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kalian membunuh diri kalian, sesungguhnya Allah Maha Pengasih bagi kalian.” [Q.S. An-Nisa`:29].
Di sisi lain, semua yang baik dihalalkan buat kamu. Allah l berfirman:
“Mereka bertanya apa yang dihalalkan bagi mereka. Katakanlah, ‘Dihalalkan bagi kalian segala sesuatu yang baik.’” [Q.S. Al-Ma`idah:4]. Makanya, segala sesuatu yang nggak baik buat tubuh kamu (contoh: pecahan kaca, batu, tanah, dll) dilarang untuk dimakan.
Woi, Sadar… (Alasan Merokok Plus Bantahannya)
Nah, kalau kamu baca tulisan di atas, Insya Allah, tahu banget dong kalau merokok itu 100% atau 1000‰ nggak baik buat kesehatan kamu. Tapi, ternyata ada aja alasan-alasan buat melegalkan penyedotan barang haram ini. Apa saja alasannya? Kita telaah satu per satu yuk:
1. “Yang merokok saya, yang sakit saya, kok kamu ribut?”
Siapa bilang merokok cuma membahayakan diri sendiri? Asap rokok yang tidak terhisap juga membahayakan lingkungan. Fakta membuktikan zat-zat racun yang terkandung dalam asap samping rokok (asap yang tidak terhisap) empat kali lebih banyak daripada yang dihisap. Makanya, orang di sekitar perokok (biasa disebut perokok pasif) lebih rentan terkena jantung, paru-paru, kanker, dan masalah rokok lainnya. Kata seorang ahli, perokok pasif memiliki resiko terkena jantung koroner 25-30 persen lebih banyak daripada perokok aktif. Itu yang parah, belum lagi bau tidak sedap yang disebabkan asap rokok ini. Tambah lagi, global warming (bahasa keren ‘Pemanasan Global Dunia’), yang katanya telah mencairkan beberapa gunung es, juga nggak lepas dari karbon dioksida yang ada dalam asap rokok.
2. “Rokok kan tidak sebahaya heroin, ganja, atau minuman keras.”
Masih bilang nggak berbahaya? Baca deh dari atas lagi. Apalagi, menurut sebuah penelitian, ternyata orang yang merokok memiliki persentase yang lebih besar untuk mengonsumsi benda-benda yang disebutkan tadi.
3. “Pemerintah melegalkan kok.”
Memang kenapa kalau pemerintah melegalkan? Legalitas dari pemerintah membuat hidup kamu sehat? Banyak banget bukti kalau rokok nggak sehat buat kamu. Di bungkus rokok yang biasa kamu beli aja (kalau kamu suka beli rokok) ada tulisan pakai huruf kapital semua, “PERINGATAN PEMERINTAH: MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI, DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN” (Di negara lain, bukan hanya tulisan, tapi gambar penyakit: paru-paru, jantung, otak, dan lainnya yang kena penyakit akibat rokok, biar yang beli pada muntah) Nah, pemerintah saja memperingatkan bahayanya. Tapi, mungkin pemerintah punya pertimbangan tersendiri tetap memelihara rokok di Indonesia. Ya, semoga Allah memberi hidayah kepada pemerintah Indonesia untuk melarang rokok.
4. “Pendapatan negara dari rokok itu besar lho?”
Fakta yang membuat kita miris, pendapatan dari rokok itu sebenarnya ditanggung oleh konsumen. Biaya cukai rokok ditanggung oleh pembeli. Jadi, bukan perusahaan rokok yang berjasa, masyarakat yang bayar.
5. “Saya kan masih muda, nanti kalau saya sudah tua, saya akan berhenti.”
Yakin bisa tua? Jangan-jangan belum tua sudah berhenti merokok gara-gara mati muda (jangan banget deh). Lagipula, semakin lama mengonsumsi rokok, semakin sulit pula dia berhenti dari merokok.
6. “Saya terlihat lebih jantan dengan merokok.”
Siapa bilang merokok itu jantan? Kalau kita perhatikan, merokok itu bodoh. Belinya mahal, dibakar, eh dapat penyakit, bau lagi. Apa sih manfaatnya? Lagipula, ayam jantan, kerbau jantan, sapi jantan semuanya nggak merokok kok (nggak nyambung).
7. “Saya tidak bisa berhenti, sudah ketagihan.”
Siapa bilang nggak bisa berhenti. Banyak yang sudah mencoba, dan banyak yang berhasil. Tempuh semua cara agar berhasil. Bisa, Insya Allah.
8. “Saya dipaksa teman, kalau tidak merokok, saya diejek.”
Tinggalkan saja teman kamu itu (wah, kejam). Dia bukan teman yang baik buat kamu. Apa ada teman sejati yang malah menjerumuskan temannya. Cari teman yang baik, yang mendukung kami melakukan hal-hal yang baik. Lagipula, baru juga diejek belum dipukul. Biarin aja. Nah, nanti kalau sudah dipukul lapor pak guru, biar dia dijewer pak guru.
9. “Kalau merokok, saya bisa konsentrasi belajar.”
Kalau cuma pengin konsentrasi, nggak perlu merokok. Cari ruang yang sepi, pusatkan pikiran ke pelajaran kamu. Kalau memang lagi ramai, cari kapas, masukkan ke lubang telinga kamu sambil teriak “WOOIII, BERISIK!! GUE LAGI MAU BELAJAR!!!” (emm…, kayaknya yang terakhir nggak solutif deh, jangan ditiru ya).
10. “Iya deh, saya berhenti, tapi bantu saya ya.”
Nah, gitu dong. Tenang saja, kalau teman kamu baik-baik semua -seperti saya-, Insya Allah dibantu kok. Nanti kalau kamu ketahuan merokok, langsung deh, kami bantu memukul kamu biar sadar (bercanda). Kami bantu buang rokok kamu ke tempat sampah. Kami bantu kamu mengatakan, “Alhamdulillah, saya telah merdeka dari belenggu rokok! Merdeka!!” (kelihatan keren kan?)
Yah, selesai deh tulisan tentang rokoknya. Penginnya sih lagi, tapi, sudah kebanyakan. Ya udah, kita berdoa kepada Allah, semoga kita dijauhkan dari jeratan rokok yang membuat ketagihan ini. Semoga Allah juga menyadarkan teman-teman kita yang lagi asyik menyedot barang haram ini (apalagi yang sambil baca Majalah Tashfiyah). Semoga Allah membukakan hati pemerintah kita agar melarang rokok dari peredaran. Dan, semoga Allah memberikan kesembuhan kepada saudara kita yang mendapatkan penyakit akibat rokok. Amin ya mujibas sa`ilin. Allahu a’lam bish shawab. (Abdurrahman)
http://tashfiyah.net/2011/12/merokok-bikin-hidup-lebih-nggak-karuan/
Merokok : Bikin Hidup Lebih Nggak Karuan
Jika Terkena Najis, Apakah Wudhu Menjadi Batal?
Jika Terkena Najis, Apakah Wudhu Menjadi Batal?
Soal : Jika seseorang yang masih dalam wudhu terkena najis di bajunya, lalu dia membersihkan najis di bajunya tersebut, apakah harus mengulang wudhunya (yakni batal wudhunya, red.)?
Jawab : Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah mengatakan, “Jika seseorang yang masih dalam wudhu terkena najis di badannya atau bajunya, wudhunya tidak terpengaruh (tidak batal). Karena, ini bukan pembatal wudhu. Hanya, dia harus mencuci najis tersebut dari badan atau bajunya dan dia shalat dengan wudhunya yang tadi. Tidak mengapa hal ini baginya.”
Bolehkah Berpindah Tempat Ketika Wudhu?
Soal : Bolehkah kita berpindah dari satu tempat ke tempat lain ketika berwudhu?
Jawab : Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah mengatakan, “Tidak mengapa berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya ketika berwudhu. Apalagi jika perpindahan ini dibutuhkan. Seperti, apabila dia berpindah mencari air di tempat lain karena tempat wudhu yang pertama airnya habis.
Tetapi, dalam berpindah ini tidak boleh ada pemisah yang lama. Yakni, tidak memakan waktu yang lama sehingga anggota wudhunya kering. Tidak apa-apa dia menyempurnakan wudhu dengan wudhunya tadi. Asal, niatnya tetap satu. Jika niatnya terpisah, yakni dia memulai wudhu, lalu berpindah dan niatnya terpisah (yakni, dia berniat untuk memulai dari awal lagi, red.), maka dia harus mulai wudhu dari awal lagi. Karena, apa yang dia basuh dengan niat yang pertama telah terpisah hukumnya.”
Dialihbahasakan dari Al-Muntaqa min Fatawa Al-Fauzan.
http://tashfiyah.net/2011/05/jika-terkena-najis-apakah-wudhu-menjadi-batal/
. Anak Ņőƞ6K®0ń6 .
Sobat Tashfiyah,
pernah dong kamu melihat teman-teman kamu nongkrong di pinggir jalan? Atau, justru kamu sendiri yang sukanya nongkrong-nongkrong (hayo)? Tahu nggak? Ternyata, ajaran Islam yang kamu anut sudah mengatur acara kongkow-kongkow di pinggir jalan ini. Apa itu? Jedeng deng… Baca ada deh…
1. Jagalah Mata. Jangan Kau Kotori.
Mata adalah jendela hati. Jika jendelanya melihat barang-barang yang kotor, nanti apa yang masuk ke hati juga hal-hal yang kotor. Sayangi mata kamu. Kami nggak promosiin tetes mata kok. Kami mau mengingatkan firman Allah ta’ala:
“Katakan kepada orang-orang mukmin laki-laki untuk menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka. Hal itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakan kepada orang-orang mukmin perempuan untuk menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka…” [Q.S. An-Nur:30-31]. Jadi, kalau kamu mau cuci mata, bukan dengan melihat apa yang Allah haramkan. Baca aja Kalamullah, dijamin, mata kamu menjadi terang di hari kiamat nanti, Insya Allah.
2. Tidak Mengganggu.
Kamu mengaku muslim ‘kan? Kalau ya (tapi masak sih nggak), kamu harus mengamalkan hadits Rasulullah ` yang maknanya seperti ini, “Seorang muslim adalah orang yang muslimin lainnya selamat dari lisan dan tangannya.” [H.R. Al-Bukhari dan Muslim]. Jadi, nggak ada kamusnya seorang muslim jadi preman yang lagi mangkal di pinggir jalan.
3. Perintah Yang Baik, Larang Yang Buruk.
Salah satu adab seorang muslim waktu di pinggir jalan adalah memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang mungkar. Rasulullah ` pernah mengatakan, “Jauhilah oleh kalian untuk duduk-duduk di jalan.” Para sahabat mengatakan, “Kami harus melakukannya. Itu hanya tempat kami berbincang.” Rasulullah ` pun mengatakan, “Jika kalian enggan kecuali untuk duduk-duduk, maka tunaikanlah hak di jalan.” Mereka menanyakan, “Apa itu hak di jalan?” Rasulullah ` menjawab, “Menundukkan pandangan, tidak mengganggu, menjawab salam, dan memerintahkan yang ma’ruf serta melarang dari yang mungkar.” [H.R. Al-Bukhari dari Abu Sa’id Al-Khudri z].
4. Mulutmu. Harimaumu.
Hati-hati sama yang namanya mulut. Kenapa? Karena mulut memiliki lidah tak bertulang *Lho apa hubungannya?*. Serius, mulut ini bisa menjerumuskan kamu ke dalam neraka. Coba simak sabda Rasulullah ` berikut ini (langsung diterjemahkan ke bahasa Indonesia aja yah), “Sesungguhnya seorang hamba mengatakan suatu kalimat, ternyata bisa menyebabkannya turun ke dalam neraka yang lebih jauh daripada timur dan barat.” [H.R. Al-Bukhari dan Muslim]. Makanya, kalau nggak mau jatuh ke neraka gara-gara mulut kamu, jaga harimaumu!
5. Makan Bangkai Nggak Enak Lho.
Tahu nggak sih kalau seringkali tanpa sengaja kita makan bangkai saudara kita? Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi yang lainnya. Apakah salah seorang dari kalian suka untuk memakan daging saudaranya yang telah mati sehingga dia membencinya.” [Q.S. Al-Hujurat:12]. Ghibah adalah menyebutkan apa yang saudaranya benci tanpa diketahuinya (boleh kamu sebut: gosip, ngerumpi, ngomongin orang, atau yang lainnya).
Seorang ulama, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah v, menjelaskan di dalam bukunya I’lamul Muwaqqi’in bahwa penyerupaan ghibah dengan memakan bangkai saudaranya karena ghibah biasanya rasanya nikmat seperti makan; dengan menyebutkan kejelekan saudaranya muslim tapi saudaranya ini tidak bisa membela dirinya seperti manusia yang mati. Intinya, nggak usah ghibah deh.
6. Perhatikan Waktumu.
Waktu adalah ibadah, ini prinsip seorang muslim sejati. Kamu muslim sejati ‘kan? Nggak pantas dong kamu melalaikan waktu kamu. Jangan sampai gara-gara keasyikan nongkrong jadi lupa deh tugas-tugas wajibnya, apalagi shalatnya.
7. Majelis Nongkrong = Majelis Dzikir.
Biar nongkrong kamu nggak rugi, ada sebuah tips yang dikasih oleh Rasulullah `. Beliau ` bersabda (artinya), “Tidaklah suatu kaum duduk dalam suatu majelis tapi dia tidak berdzikir kepada Allah dan tidak bershalawat kepadaku, kecuali hal itu akan menjadi penyesalan baginya. Jika Allah kehendaki, Dia akan mengazabnya, jika Allah kehendaki, Dia akan mengampuninya.” [H.R. At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani].
Nah, itu tadi hal-hal yang perlu kamu perhatikan waktu nongkrong. Kalau kamu nongkrongnya kayak gitu, boleh deh nongkrongnya. Kalau nggak, buang aja kebiasaan nongkrong kamu itu, ganti dengan kebiasaan yang lebih bermanfaat dan bernilai di sisi Allah.
Nongkrong di Majelis Ta’lim
Nongkrong sambil dikerubungi malaikat. Mau? Bisa. Caranya, tinggal datang aja ke majelis taklim yang dasarnya Al-Quran dan sunnah, tongkrongin tuh majelis. Datang dengan baju rapi, duduk yang manis, terus dengerin baik-baik nasihatnya. Insya Allah malaikat turun dan mengelilingi majelis kamu. Nggak cuma itu, rahmat juga akan turun ke dalam majelis ini plus seabrek keutamaan lainnya. Soalnya, Rasulullah ` pernah bersabda (yang artinya), “Tidaklah suatu kaum berkumpul di dalam sebuah rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca Kitabullah, saling mempelajarinya di antara mereka, kecuali akan turun kepada mereka ketenteraman, rahmat akan meliputi mereka, malaikat mengelilingi mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka pada makhluk yang di sisi-Nya (malaikat).” [H.R. Abu Dawud dari Abu Hurairah z]. Sebenarnya, nggak cuma ini yang kamu dapatkan kalau kamu datang ke majelis ta’lim, masih banyak hadits yang menjelaskan tentangnya. Cuma, kalau kami sebutkan semuanya, nanti halaman kita tambah paaanjaang dan leeebaaar, jadinya rubrik yang lain nggak kebagian tempat dong *curhat*. Ya udah ya. Allahu a’lam bish shawab. (abdurrahman)
http://tashfiyah.net/2011/06/anak-no%C6%9E6k%C2%AE0n6/
Di Balik Malam dan Siang

Di antara tanda-tanda kebesaran Allah adalah siang dan malam. Keduanya adalah sebagian dari keajaiban ayat-ayat-Nya dan keindahan ciptaan-Nya. Oleh sebab itulah Allah menyebutkan dalam Al Quran berulang-ulang. Agar manusia bisa mengmbil pelajaran darinya. Allah berfirman,
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam dan siang.” [Q.S. Fushshilat:37]. Dalam ayat yang lain Allah berfirman,
“Dialah yang menjadikan untuk kalian malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.” [Q.S. Al Furqan:47]. Allah berfirman pula,
“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” [Q.S. Al Anbiya’:33].
Ayat-ayat memacam ini banyak dalam Al Quran. Lihatlah ayat-ayat ini, renungkanlah kandungan pelajaran yang sekaligus menunjukkan rububiyah Allah (menunjukkan bahwa Allah lah semata pencipta, pengatur, penguasa, pemberi rezeki, dan makna-makna rububiyah yang lainnya) serta menunjukkan keagungan hikmah-Nya.
Bagaimana Allah menjadikan malam dalam keadaan tenang, menyelimuti alam, sehingga berbagai aktivitas makhluk berkurang, hewan-hewan bersembunyi di rumahnya, burung-burung kembali ke sarangnya. Jiwa pun menjadi tenang, beristirahat dari payah dan letihnya berkerja, sambil merencanakan untuk esok hari.
Kemudian Allah menggantikannya dengan siang hari, terang cahayanya menghilangkan gelapnya malam. Mulailah hewan-hewan keluar dari sarangnya untuk mencari penghidupan dan kemashlahatannya. Bukankah ini menunjukkan kemampuan Allah untuk membangkitkan manusia pada hari kiamat kelak? Namun, dengan seringnya jiwa ini menyaksikan hal tersebut sehingga menjadi kebiasaan, akhirnya menyebabkan kurang peka terhadap pelajaran ini. Pelajaran bahwa Allah Maha Mampu menghidupkan kembali manusia setelah kematiannya. Allah Maha Mampu atas segalanya, Maha Sempurna sifat-sifat-Nya, tidak ada kekurangan sedikit pun dalam hikmah-Nya. Akan tetapi Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki, dan menyesatkan siapa yang Allah kehendaki. Sehingga sebagian orang bisa mengambil pelajaran darinya dan sebagian tidak. Allahu a’lam. [farhan].
Disarikan dari Miftah Daris Sa’adah karya Imam Ibnul Qayyim v.
http://tashfiyah.net/2011/06/di-balik-malam-dan-siang/
Hikmah Terjadinya Gerhana
Wahai para pembaca, sesungguhnya gerhana matahari dan bulan adalah dua tanda kebesaran dan kekuasaan Allah, yang dengan keduanya Allah hendak menumbuhkan rasa takut pada manusia, sebagaimana Nabi menjelaskan demikian dalam haditsnya yang shahih: “Sesungguhnya ayat-ayat (kauniyyah) ini Allah utus bukan karena kematian seseorang, bukan pula karena kelahiran seseorang, akan tetapi Allah hendak memberikan rasa takut kepada hamba-hambanya dengannya, maka bila kalian melihat sesuatu darinya, segeralah berdzikir kepada Allah, berdoa kepadaNya, dan beristighfar” [Muttafaqun alaihi]
Mengetahui sebab gerhana dari sisi alamiyah, yang saya maksud tertutupnya rembulan terhadap sinar matahari atau tertutupnya bumi terhadap sinar matahari, tidak berarti keduanya bukan dua tanda kekuasaan Allah. akan tetapi peristiwa ini,Allah tetapkan dengan sebab , dibelakangnya ada hikmah-hikmah sesuai dengan apa yang diberitakan oleh Nabi bahwa itu adalah takhwif. pemberian rasa takut (atau peringatan) dari Allah kepada hamba-hambaNya atas dosa-dosa mereka dan maksiat-maksiat mereka dan hendaknya mereka merasa tertegur oleh Rabb mereka dan melakukan hal yang membuat ridhoNya dengan memperbarui tobat dan segera kembali kepada Allah dan melakukan sholat berjamaah atau sendiri-sendiri. sedangkan berjamaah lebih utama, selain itu agar mereka memperbanyak shodaqoh dan doa sampai kembali menjadi terang.
Dan pada penutupan (makalah) ini ada peringatan, yaitu bahwa kita sekarang ini telah diuji dengan banyaknya para penulis dan para komentator yang dengan sekuat tenaga berusaha membatalkan (atau mengaburkan:pen) pengaruh dari datangnya tanda-tanda kekuasaan Allah ini yaitu untuk memberikan rasa takut kepada mereka (sebagai peringatan) terhadap hamba-hambaNya. lihatlah mereka menggambarkan gerhana hanya sebatas kejadian alam yang tiada sangkut pautnya dengan dosa-dosa manusia.
Sehingga banjir-banjir, penenggelaman, tidak ada sebabnya melainkan hanya karena kerusakan tatanan dan karena sembarangan dalam membangun. Gempa-gempa tidak punya sebab melainkan hanya gerakan lempengan dalam bumi.
Mahasuci Allah, siapakah yang menggerakkan bumi sehingga membuat binasa, yang mengalirkan banjir sehingga meneggelamkan, dan membuat gerhana matahari sehingga menjadi gelap, bukankah Allah…bukankah seandainya Allah berkehendak tentu Allah akan menghalanginya sehingga tidak terjadi?
Dan siapakah yang yang mengabarkan bahwa kejadian-kejadian dan musibah ini bahwa tujuannya adalah menumbuhkan rasa takut kepada hamba-hambaNya sehingga mereka mau bertaubat, kembali, mengambil pelajaran serta mengambil ibroh, bukankah utusan Sang Pencipta makhluk bagian atas alam ini maupun bawahnya? Bukankah dia adalah orang yang jujur lagi dibenarkan. Shallahu alaihi wa sallam.
Seseungguhnya gerhana di masa Rasulullah tidak terjadi kecuali hanya sekali, pada tahun 8 H pada hari dimana Ibrohim putra beliau meningal, lalu tidak terjadi lagi sampai meninggalnya Rasullullah.
Maka lihatlah dan perhatikanlah bagaimana gerhana banyak terjadi belakangan ini, tidak ada lain kecuali karena banyaknya kejelekan dan maksiat.
Maka hendaknya engkau wahai saudaraku yang muslim berpegang dengan dalil-dalil syar’i dari al Quran dan al Hadits, hati-hati, jangan sampai kamu terkecoh dengan pendapat-pendapat yang bertentangan dengannya, walaupun dihiasi dengan syubhat yang menipu dan pemaparan yang manis (dikesankan ilmiyah-pen). Karena sesungghnya Allah tidak mengatakan kecuali kebenaran dan tidaklah Rasulullah menyampaikan dari Rabbnya melainkan kebenaran. Tidak ada setelah kebenaran kecuali kebatilan.
Allahlah yang lebih tahu. Semoga Allah memberikan sholawatNya kepada hambaNya dan RasulNya serta keluarganya dan para sahabatnya juga memberikan salamNya kepada mereka.
Dr. Ali bin Yahya al Haddadi
Dosen Fakultas Ushuluddin Universitas Muhammad bin Su’ud Riyadh KSA
Kutipan dari makalah beliau dalam http://www.haddady.com/ra_page_views.php?id=348&page=2&main=2http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=3941604247635008370
Alih bahasa : Qomar Suaidi ZA
Catatan penerjemah: dengan banyaknya gerhana artinya banyak peringatan dari Allah atas dosa-dosa yang banyak dilakukan manusia. Sementara kenyataanya sekarang orang-orang memandang gerhana sebagai hal biasa bahkan menyenangkan, melihat dan menikmatinya bahkan sebagian orang sambil bermaksiat, pacaran. Na’udzubillah min dzalik, sementara amalan yang disyariatkan tidak dilakukan, seperti sholat, shodaqoh, berdoa dan beristghfar kepada Allah. Sungguh sangat terbalik. Pantaslah kalau musibah silih barganti tak kunjung usai, karena peringatan seolah tidak lagi mempan buat kebanyakan umat ini. Kepadamulah kami mengadu Ya Allah. Sadarlah wahai umat manusia.
sumber: http://www.salafy.or.id/2011/12/11/hikmah-terjadinya-gerhana/
Bolehkah Mendengarkan Radio Rodja?
(AUDIO) Permasalahan dan Jawaban Syaikh Muhammad Bin Hadi Al-Madkhali Terkait Radio Rodja
Al-Ustadz Luqman Ba'abduh : Disini
Al-Ustadz Muhammad As-Sewed : Disini
Al-Ustadz Dzul Akmal,Lc : Disini
Al-Ustadz Afifudin : Disini
Al-Ustadz Usamah Mahri,Lc : Disini
http://salafysemarang.com/manhaj-salaf/117-bolehkah-mendengarkan-radio-rodja3f.html
sumber :http://darussalaf.or.id/stories.php?id=1941
Menguap Bisa Membatalkan Shalat?
Rabu, 17-Agustus-2011, Penulis: Assunnah
Seorang yang menguap (jawa: angop) -terkhusus ketika shalat- diperintahkan untuk menahannya semampu dia. Termasuk pula yang diperintahkan kepada seorang yang menguap adalah menghentikan bacaan shalatnya agar tidak hilang (terlewatkan) sebagian huruf atau kata/kalimat dari bacaannya tersebut. Sudah pasti diketahui bahwa membaca Al-Fatihah merupakan salah satu rukun shalat, wajib bagi orang yang shalat untuk membacanya dengan memperhatikan huruf-huruf dan kata-perkatanya.
Kalau dia sampai tidak membaca (walaupun) satu huruf saja, atau membaca huruf yang seharusnya ditasydid namun tidak mentasydidnya, atau bahkan salah dalam membacanya sehingga mengubah maknanya, -padahal lisannya normal dan seharusnya bisa untuk tidak terjatuh pada kesalahan tersebut- maka shalatnya batal.
Seorang yang menguap ketika sedang membaca bacaan shalat, seringnya dia tidak membaca beberapa huruf atau bahkan beberapa kata/kalimat. Jika huruf atau kata/kalimat yang tidak terbaca tersebut pada surat Al-Fatihah, maka shalatnya tidak sah. Sehingga masalah seperti ini hendaknya benar-benar diperhatikan.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
التَّثَاؤُبُ مِنْ الشَّيْطَانِ فَإِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَالَ هَا ضَحِكَ الشَّيْطَانُ
“Menguap adalah dari setan, jika salah seorang dari kalian menguap, maka hendaknya ditahan semampu dia, sesungguhnya jika salah seorang dari kalian (ketika menguap) mengatakan (keluar bunyi): ‘hah’, maka setan tertawa.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, dan ini lafazh riwayat Al-Bukhari)
Dan diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dengan lafazh:
التَّثَاؤُبُ فِي الصَّلاةِ مِنْ الشَّيْطَانِ فَإِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَكْظِمْ مَا اسْتَطَاعَ
“Menguap ketika shalat adalah dari setan, jika salah seorang dari kalian menguap, maka tahanlah semampunya.”
Al-Imam Malik rahimahullah berkata[1]:
“Mulutnya ditutup dengan tangannya ketika shalat sampai selesai menguap. Jika menguap ketika sedang membaca bacaan shalat, kalau dia memahami apa yang dibaca, maka hukumnya makruh namun sudah mencukupi baginya (bacaan dia). Tetapi jika tidak memahaminya, maka dia harus mengulangi bacaannya, dan jika tidak mengulanginya, -kalau bacaan tersebut adalah surat Al-Fatihah-, maka itu tidak mencukupi (tidak sah shalatnya), dan kalau selain Al-Fatihah, maka sudah mencukupinya (shalatnya sah).”
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menerangkan[2]:
“Pasal tentang beberapa masalah yang langka di tengah-tengah umat namun sangat butuh untuk dijelaskan kepada mereka, adalah di antaranya:
Seorang yang menguap ketika shalat, dia harus menghentikan bacaan shalatnya sampai menguapnya selesai, kemudian melanjutkan bacaannya. Ini adalah perkataan Mujahid, dan ini ucapan yang bagus, ditunjukkan oleh riwayat dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إذا تثاءب أحدكم فليمسك بيده على فمه فإن الشيطان يدخل
“Jika salah seorang di antara kalian menguap, hendaknya dia tahan mulutnya dengan tangannya, karena setan berupaya untuk masuk.” (HR. Muslim)
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan[3]:
“Dan di antara yang diperintahkan bagi orang yang menguap adalah: jika sedang shalat, maka dia harus menghentikan bacaannya sampai menguapnya selesai, agar bacaannya tidak berubah. Pendapat yang seperti ini disandarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Mujahid[4], ‘Ikrimah[5], dan para tabi’in.
Diterjemahkan dengan sedikit perubahan dari http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=121758
[1] Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Asy-Syaikh Khalil (II/308) cet. Dar Alimil Kutub.
[2] At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an, hal. 114.
[3] Fathul Bari (X/612).
[4] Ibnu Abi Syaibah mengatakan: Telah menyampaikan kepada kami Waki’ bahwa dia berkata: Telah menyampaikan kepada kami Sufyan, dari ‘Utsman bin Al-Aswad, dari Mujahid, dia berkata: “Jika seseorang menguap ketika shalat, maka hentikan bacaan shalat.” (Al-Mushannaf, 8007).
[5] Ibnu Abi Syaibah mengatakan: Telah menyampaikan kepada kami Abu Khalid -dia bukan Al-Ahmar-, dari Jarir bin Hazim, dari Ya’la bin Hakim, dari ‘Ikrimah, dia berkata: “Jika salah seorang dari kalian menguap ketika sedang membaca bacaan shalat, maka hentikan bacaan tersebut.” (Al-Mushannaf, 8078)
http://www.assalafy.org/mahad/?p=612#more-612
http://darussalaf.or.id/stories.php?id=1924
Mengunjungi Saudara Karena Mencintainya
Hadits
Rasulullah ` bersabda:
أَنَّ رَجُلًا زَارَ أَخًا لَهُ فِي قَرْيَةٍ أُخْرَى فَأَرْصَدَ اللَّهُ لَهُ عَلَى مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا فَلَمَّا أَتَى عَلَيْهِ قَالَ أَيْنَ تُرِيدُ قَالَ أُرِيدُ أَخًا لِي فِي هَذِهِ الْقَرْيَةِ قَالَ هَلْ لَكَ عَلَيْهِ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا قَالَ لَا غَيْرَ أَنِّي أَحْبَبْتُهُ فِي اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ فَإِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكَ بِأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيهِ
“Sesungguhnya ada seseorang yang mengunjungi saudaranya di daerah lain, maka Allah mengutus seorang malaikat menunggu orang tersebut di jalan yang ia lalui. Ketika orang tersebut lewat, malaikat bertanya, “Hendak kemanakah engkau?” Ia menjawab, “Aku ingin mengunjungi saudaraku yang tinggal di daerah ini.” Ia menjawab, “Apakah engkau memiliki piutang yang menjadi tanggungan saudaramu tersebut yang ingin engkau ambil.” Ia menjawab, “Tidak ada, selain karena aku mencintainya karena Allah ‘Azza wa Jalla.” Malaikat pun berkata, “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah yang Allah utus untuk menyampaikan bahwa Allah pun mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu tersebut karena-Nya.” [H.R. Muslim dari shahabat Abu Hurairah z].
Dalam hadits yang mulia ini Rasulullah ` memberikan banyak pelajaran kepada kita. Di antara pelajaran itu adalah, disunahkannya mengunjungi saudaranya yang jauh karena Allah, bukan karena urusan materi atau segala kepentingan duniawi. Saudara di sini maksudnya adalah saudara seiman. Karena disyaratkannya niat cinta karena Allah. Disamping hal ini termasuk silaturahmi, sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa silaturahmi yang bersifat umum adalah kepada saudara seiman, kunjungan kepada mereka akan memupuk keimanan dan ketakwaan. Saling mengingatkan kepada kebenaran, ketakwaan, dan kesabaran.
Memang, pergaulan sangat berpengaruh dalam membentuk karakter seseorang. Allah berfirman yang artinya, “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabb mereka di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini, dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” [Q.S. Al Kahfi:28]. Rasulullah ` sebagai Nabi yang terbimbing wahyu masih juga Allah perintahkan untuk mencari teman yang shalih, teman seiman, apalagi selain beliau ` tentu lebih membutuhkannya. Kita butuh teman yang selalu mengingatkan kita ketika lupa, menasehati kita ketika lalai, mendorong kita ketika malas. Hal ini dapat terwujud salah satunya dengan mengunjungi saudara seiman. Apalagi saudara tersebut seorang yang berilmu atau bahkan termasuk kerabat, tentu manfaat ukhrawi semakin besar didapat.
Besarnya pahala yang didapat sesuai dengan kadar usaha. Semakin berat dalam pelaksanaan amalan shalih, semakin banyak pengorbanan yang dilakukan, maka nilainya akan semakin besar di sisi Allah. Tentu setelah persyaratan ikhlas terpenuhi. Pelajaran ini dapat kita petik dari kisah kunjungan jauh yang dilakukan seseorang yang tersebut dalam hadits ini. Sampai Allah mengutus seorang malaikat secara khusus yang menyampaikan pahala yang ia raih. Rasulullah ` pun menegaskan, “Sesungguhnya pahalamu sesuai dengan usahamu.” [H.R. Abu ‘Awanah dari shahabat Aisyah x]. Hadits ini menunjukkan pula bahwa malaikat bisa berubah bentuk atas izin Allah dalam penampilan manusia.
Hadits ini mengajarkan kepada kita pula tentang keutamaan cinta karena Allah dan saling berkunjung karena-Nya. Siapa yang cinta karena Allah, maka Allah pun akan mencintainya. Hadits yang menjelaskan tentang masalah ini cukup banyak, di antaranya Rasulullah ` bersabda yang artinya, “Allah Tabaraka wa ta’ala berfirman, ‘Telah pasti kecintaan-Ku kepada dua orang yang saling mencinta karena Aku, saling bermajelis karena Aku, saling mengunjungi karena Aku, dan saling memberi karena Aku.” [H.R. Malik dari shahabat Muadz bin Jabal z, dishahihkan Syaikh Al Albani v dalam Shahih At Targhib]. Lalu apa lagi yang diinginkan setelah kecintaan-Nya? Adakah karunia yang lebih besar darinya? Ketika Allah mencintai seseorang maka Dia akan memberikan taufik dalam meniti jalan yang lurus. Allah selalu membimbing dan memudahkannya dalam ketaatan kepada-Nya. Rahmat-Nya pun senantiasa dilimpahkan sehingga keutamaan dunia dan akhirat akan didapat. Rasulullah ` bersabda yang artinya, ” [H.R. Muslim dari shahabat Abu Hurairah z].
Hadits ini menunjukkan sifat mahabbah (cinta) bagi Allah. Bahwa Allah dicintai dan mencintai apa saja dan siapa saja yang dikehendaki-Nya. Sifat cinta yang sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya, tidak sama atau serupa dengan sifat cinta yang ada pada makhluk. Allah berfirman yang artinya, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Melihat.” [Q.S. Asy Syura:11].
Sebagai seorang muslim kita harus menyakini mahabbah sebagai sifat Allah Yang hakiki. Bukan hanya dalam banyak hadits, bahkan Allah pun telah menetapkan sifat ini untuk diri-Nya dalam banyak ayat. Dalam surat yang kedua saja (Al Baqarah) Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.”, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang senang bertaubat kepada-Nya, dan mencintai orang-orang yang membersihkan diri.” Ayat yang lainnya sangat banyak. Jadi, kewajiban kita adalah menyakininya sebagai sifat Allah yang hakiki, sesuai keagungan dan kebesaran Allah. Tidak menyerupakan sifat ini dengan makhluk, tidak menanyakan hakikatnya, tidak menyelewengkan maknanya, dan tidak pula menolaknya. Demikian keyakinan Ahlu Sunnah wal Jamaah. Allahu A’lam. [Farhan].
Referensi: Shahih At Targhib karya Al ‘Alamah Al Albani
Riyadhush Shalihin karya Al Imam An Nawawi
http://tashfiyah.net/?p=859
Si Belang, Si Botak, Dan Si Buta
Dunia memang negeri yang penuh dengan berbagai bentuk ujian. Ujian yang akan membongkar jati diri setiap insan. Ketika seseorang mampu selamat dan lulus dalam ujian-ujian tersebut, maka negeri akhiratlah yang bakal ia raih. Sebaliknya, siapapun yang gagal dan terjatuh dalam menghadapinya, maka kesengsaraan ada di depan matanya. Harta yang Allah berikan kepada para hambanya adalah salah satu bentuk ujian yang Allah berikan kepadanya. Apakah ia mampu mensyukuri-Nya atau malah ia kufur terhadap-Nya.
Terlalu banyak contoh kisah orang-orang yang gagal dalam ujian harta ini. Salah satunya, adalah apa yang Rasulullah ` ceritakan berikut kepada kita dari Bani Isra`il. Berita yang datang dari Bani Isra`il atau yang sering disebut dengan Isra`iliyat dapat kita terima bila berita itu telah dibenarkan oleh Al-Quran atau sunnah Rasulullah. Adapun jika tidak ada pada keduanya, maka kita bersikap diam, tidak membenarkan dan tidak mendustakannya.
Rasulullah ` mengisahkan sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam kitab Shahih beliau, bahwa dahulu di masa Bani Isra`il terdapat tiga orang yang sama-sama tertimpa kekurangan dalam fisiknya. Mereka adalah Si Botak, Si Belang, dan Si Buta.
Maka Allah hendak menguji mereka. Allah kirimkan kepada mereka satu malaikat. Malaikat itu pun bertanya, “Apakah yang kamu inginkan saat ini?” tanya Malaikat tersebut pada ketiganya dalam waktu yang berbeda.
“Aku ingin kulit dan warna tubuh yang indah dan hilang dariku penyakit yang membuat manusia merasa jijik kepadaku” jawab Si Belang. Maka Malaikat itu mengusap kulitnya dan seketika itu pula hilanglah penyakit belang yang dideritanya.
“Ternak apa yang kamu inginkan?”
“Unta” jawab si belang.
Malaikat lalu memberinya seekor unta betina yang bunting seraya berkata, “Semoga Allah memberkahi untamu ini.”
Adapun Si Botak, ia berkata, “Aku ingin rambut yang indah dan hilang dariku penyakit yang membuat manusia merasa jijik kepadaku.”
Maka malaikat itu mengusap kepalanya dan seketika itu pula ia mendapatkan rambut yang menawan.
“Ternak apa yang kamu inginkan?”
“Sapi” jawabnya.
Dan malaikat itupun memberinya seekor sapi betina yang bunting dan mendoakannya, “Semoga Allah memberkahi sapimu ini.”
Bagaimana dengan Si Buta? Apakah jawabannya? Ia menyatakan, “Aku hanya ingin Allah mengembalikan penglihatanku sehingga aku bisa melihat kembali.” Jawaban seorang yang tawadhu. Ia tidak meminta penglihatan yang bagus. Tetapi ia meminta untuk sekedar bisa melihat. Itu saja. Berbeda dengan Si Belang dan Si Botak. Keduanya meminta sesuatu yang lebih dari apa yang dibutuhkan. Si belang meminta kulit dan warna tubuh yang indah sekaligus. Dan si botak meminta rambut yang menawan. Bukan sekedar kulit dan bukan sekedar rambut. Padahal jika keduanya diberi kulit atau rambut saja itu sudah cukup.
Malaikat tersebut lantas mengusap mata Si Buta dan ia pun mampu melihat kembali. Lantas hewan apakah yang diinginkan si buta? Ternyata ia seorang yang zuhud. Ia tidak meminta unta atau sapi. Tetapi ia meminta seekor kambing. Maka, diberilah ia seekor kambing betina yang buting. “Semoga Allah memberkahi kambingmu ini” kata Malaikat.
Walhasil, ketiga orang tersebut benar-benar mendapatkan berkah pada hewan yang dimiliki. Yaitu, harta yang selalu berkembang dan bertambah banyak. Hewan-hewan milik mereka beranak-pinak. Ketiganya menjadi orang yang kaya raya. Si belang memiliki satu lembah unta, si botak dengan satu lembah sapinya dan si buta dengan satu lembah kambingnya. Di sini terdapat faedah, yaitu janganlah pernah kita menolak atau bahkan menganggap kecil segala hal yang diberikan kepada kita. Kita tidak pernah tahu jika barang tersebut ternyata berbarakah sehingga bertambah dan terus bertambah. Oleh karena itulah, Rasulullah ` tidak pernah menolak pemberian apapun walaupun itu sesuatu yang dianggap kecil. Dapat kita ambil faedah pula mengenai besarnya kekuasaan Allah dan karunia-Nya kepada hamba-Nya. Bagaimana Allah kembangbiakan satu ekor hewan menjadi begitu banyak hingga memenuhi satu lembah. Subhanallah.
Malaikat itu kembali menemui ketiganya. Ia mendatangi Si Belang dengan bentuk manusia yang berpenyakit belang seperti ia dahulu. “Aku adalah lelaki yang miskin. Bekal perjalananku telah habis. Tidak ada lagi yang dapat menolongku selain Allah dan engkau. Demi Dzat yang telah memberimu kulit dan warna yang indah dan harta kekayaan, berikan kepadaku satu ekor unta saja yang dengannya aku dapat meneruskan perjalananku.” pinta malaikat itu.
“Hak-hak yang harus kutunaikan begitu banyak.” katanya.
Ia seorang yang kikir. Ia menolak untuk memberikan seekor unta pun padahal orang yang menemuinya sangat membutuhkannya. Tidak ada rasa belas kasih kepada si miskin, tidak ada rasa syukur kepada Allah sedikit pun pada dirinya.
“Sepertinya aku mengenalmu. Bukankah engkau dahulu adalah seorang yang miskin, engkau memiliki penyakit belang hingga manusia merasa jijik kepadamu. Tetapi Allah memberikan apa yang kau miliki sekarang.” malaikat tersebut berusaha mengingatkan keadaannya dahulu.
Dengan pongahnya ia menjawab, “Aku mendapatkan harta ini secara turun temurun” ia berdusta.
Mudah sekali baginya untuk berdusta. Demikianlah keadaan orang-orang yang fasik. Mereka benar-benar menganggap ringan dosa-dosa yang mereka lakukan. Satu dosa memang bisa beranak-pinak melahirkan dosa-dosa yang lain.
“Kalau kau berdusta, semoga Allah mengembalikanmu pada keadaanmu semula.” kata malaikat itu. Maka, Allah pun mengembalikan kondisi orang tadi pada keadaannya semula. Inilah hukuman yang disegerakan bagi orang yang kufur nikmat. Na’udzu billahi min dzalik.
Kemudian ia mendatangi Si Botak dengan bentuk manusia yang botak pula seperti ia dahulu. Dan -Subhanallah- jawaban Si Botak tidak jauh beda dengan jawaban Si Belang. Keduanya mengingkari nikmat yang Allah berikan padanya. Keduanya telah gagal dalam menghadapi ujian harta ini. Keduanya lebih mengedepankan egonya dari pada ridha Allah l.
Berbeda dengan Si Buta. Ia adalah manusia yang mengakui nikmat Allah kepadanya. Dengan penuh keikhlasan, ketika malaikat meminta seekor kambingnya. Ia berkata, “Dahulu aku memang seorang yang buta. Kemudian Allah mengembalikan penglihatanku. Ambillah hartaku sesukamu. Demi Allah, aku tidak akan menahan apapun yang kau ambil karena Allah.” Ia meyakini bahwa segala yang ia dapatkan itu berasal dari Allah semata. Baik itu penglihatan ataupun hartanya. Inilah syukur nikmat yang sempurna. Yang didasari dengan pengakuan hati bahwa segalanya berasal dari Allah l. Lisan juga ikut memuji Allah. Dan ia juga siap untuk menyalurkan harta pada hal-hal yang diridhai oleh Allah l.
Mendengar kejujurannya, malaikat itu berkata, “Tahanlah hartamu, sebenarnya kalian bertiga sedang diuji. Allah telah ridha kepadamu dan Allah murka kepada dua orang temanmu”. Allah ridha kepadanya dengan kejujuran dan rasa syukurnya yang besar kepada Allah. Dan Allah murka kepada dua temannya kala mereka kufur dan sombong dengan harta yang mereka miliki. Kesimpulannya, syukur nikmat yang dilakukan oleh seorang hamba termasuk sebab harta itu tetap ada padanya. Bahkan hal itu bisa menambahkannya. Allah telah berfirman yang artinya, “Jikalau kalian mau bersyukur, niscaya Aku akan menambahkan nikmat-Ku kepada kalian. Tetapi jika kalian kufur, maka adzab-Ku sungguh pedih” [Q.S. Ibrahim:7]. Wallahu a’lam. [sufyan alwi]
http://tashfiyah.net/?p=864
Misteri Tidur Siang, Tidur Sejenak Manfaatnya Banyak
AYO BUDAYAKAN TIDUR SIANG
Di era industri dan kapitalisme ini, kita jarang menjumpai kebanyakan orang melakukan tidur siang. Mayoritas orang masa kini memiliki aktivitas yang padat luar biasa. Namun sebenarnya, kebiasaan tidur siang ini boleh dibilang termasuk bagian dari peradaban manusia dari masa ke masa. Umat Islam mengenal istilah ‘qailulah’, orang Spanyol menamakannya ‘siesta’, dan orang Inggris menyebutnya ‘napping’. Anak kecil dan kelompok lansia tercatat sebagai orang-orang yang banyak melakukan aktivitas ini.
Mengapa tidur siang menjadi kebiasaan pada kelompok umur ini? Demikian juga pada kelompok orang yang aktivitas siang harinya rendah? Faktanya yang ada, tubuh kita merasakan penurunan kewaspadaan dan suasana hati (mood) di pertengahan siang, terutama bila kita kurang tidur malam. Sebagian orang menyangka hal ini disebabkan oleh makan siang yang terlalu banyak. Padahal kenyataannya, secara biologis, Allah k memang mendesain tubuh manusia untuk tidur siang.
Tidur Siang Adalah Budaya Islam
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam pernah bersabda memerintahkan para sahabat beliau,
قَيِّلُوا فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لاَ
“Tidur sianglah kalian karena syaithan-syaithan tidak tidur siang.”(HR. Abu Nu’aim, dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah 4/202)
Qailulah (tidur siang) adalah istilah yang dipakai beliau dan para sahabat g. Qailulah berasal dari kata dasar (mashdar) قلة (sedikit), dan ia adalah bentuk diminutif (tashghir). Demikianlah yang dilakukan oleh para salaf (pendahulu) kita di masa-masa lampau. Mereka tidur siang sebentar atau bahkan hanya berbaring beristirahat sebelum atau sesudah salat Zuhur.
Tidur Siang dalam Tinjauan Kesehatan
Banyak ahli telah meneliti dan menemukan berbagai manfaat tidur siang –yang mereka labeli dengan power nap (tidur siang pemberi energi)- bagi tubuh. Hal ini menunjukkan betapa lengkap dan sempurnanya syariat agama kita. Di antara manfaat tidur siang menurut kesehatan adalah:
1.Mengurangi stres
Riset menemukan bahwa kadar hormon stres menjadi lebih rendah pada orang-orang yang memilih aktivitas yang dapat mengurangi stres, seperti tidur siang, meskipun sebentar. Istirahatlah setiap harinya dari kesibukan Anda, kurangi resiko stres, carilah tempat yang nyaman dan tenang, dan tidur sianglah barang sebentar. Insya Allah ketika bangun Anda akan merasa lebih segar dan fokus.
2.Meningkatkan kewaspadaan dan produktivitas
Bila Anda memiliki kesempatan untuk tidur siang, terutama apabila di malam harinya Anda kurang tidur, maka tidur sianglah. Anda akan merasa lebih sigap, waspada, dan energik, serta memiliki suasana hati (mood) yang baik dan efisiensi Anda akan meningkat, insya Allah. Para ilmuwan membuktikan bahwa tidur siang selama 20-30 menit, sekitar 8 jam setelah bangun di pagi hari akan lebih membantu stamina, daripada menambah tidur 20-30 menit di pagi hari. Memang, ketika Anda bangun dari tidur siang yang sebentar ini kadang akan terasa grogi atau pusing selama sekitar 10 menit. Namun, setelah penurunan kesiapan motorik Anda menghilang, Anda akan menuai manfaat tidur sebentar ini, dan siap beraktivitas kembali sepanjang siang.
http://majalahmuslimsehat.com/misteri-tidur-siang/
Hukum Memberi Ucapan Selamat Kepada Perayaan Orang Kafir
Lajnah Daimah ditanya :
“Apa hukum Islam tentang memberi ucapan selamat untuk kaum Nashara dalam hari raya mereka,sebab saya mempunyai paman yang tetangganya seorang nashrani,dia mengucapkan selamat kepadanya dalam hari-hari raya,dan perayaan-perayaan. Demikian pula dia mengucapkan selamat kepada pamanku itu pada saat hari raya, perayaan tertentu, dan setiap ada acara. Apakah dibolehkan mengucapkan selamat seorang muslim kepada nashrani,dan nashrani kepada muslim dalam perayaan dan hari raya mereka?
Berilah fatwa untuk kami semoga Allah membalas kebaikan kepada kalian.
Lajnah Daimah menjawab :
“Tidak boleh seorang muslim mengucapkan selamat kepada kaum nashara dalam pada hari-hari raya mereka. Sebab demikian itu termasuk bentuk tolong menolong diatas dosa dan sungguh kami telah dilarang melakukannya. Allah Ta’ala berfirman:
æóáóÇ ÊóÚóÇæóäõæÇ Úóáóì ÇáúÅöËúãö æóÇáúÚõÏúæóÇäö
“Janganlah kalian tolong menolong diatas dosa dan permusuhan”. (QS. Al Maidah :1)
Demikian pula hal itu menyebabkan dia sering bertemu dengan mereka, melakukan sesuatu yang mereka cintai, dan mengesankan ridha dengan apa yang mereka perbuat dengan syi’ar-syi’ar mereka dan ini tidak diperbolehkan.
Yang wajib adalah menampakkan permusuhan kepada mereka dan menjelaskan kebenciannya,sebab mereka telah memusuhi Allah Azza waJalla,menyekutukan-Nya, dan menisbatkan kepada-Nya istri dan anak.Allah Ta’ala berfirman:
áóÇ ÊóÌöÏõ ÞóæúãðÇ íõÄúãöäõæäó ÈöÇááøóåö æóÇáúíóæúãö ÇáúÂÎöÑö íõæóÇÏøõæäó ãóäú ÍóÇÏøó Çááøóåó æóÑóÓõæáóåõ æóáóæú ßóÇäõæÇ ÂÈóÇÁóåõãú Ãóæú ÃóÈúäóÇÁóåõãú Ãóæú ÅöÎúæóÇäóåõãú Ãóæú ÚóÔöíÑóÊóåõãú ÃõæáóÆößó ßóÊóÈó Ýöí ÞõáõæÈöåöãõ ÇáúÅöíãóÇäó æóÃóíøóÏóåõãú ÈöÑõæÍò ãöäúåõ
“Kamu tidak mendapati satu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir saling cinta mencintai dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, meskipun mereka adalah bapak-bapak mereka, atau anak-anak mereka, atau saudara-saudara mereka, atau karib kerabat mereka. Mereka itulah yang Allah mencatat pada mereka keimanan dan menguatkannya dengan ruh dari-Nya.”
(QS.Al-Mujadilah:22)
Dan firman-Nya:
ÞóÏú ßóÇäóÊú áóßõãú ÃõÓúæóÉñ ÍóÓóäóÉñ Ýöí ÅöÈúÑóÇåöíãó æóÇáøóÐöíäó ãóÚóåõ ÅöÐú ÞóÇáõæÇ áöÞóæúãöåöãú ÅöäøóÇ ÈõÑóÂÁõ ãöäúßõãú æóãöãøóÇ ÊóÚúÈõÏõæäó ãöäú Ïõæäö Çááøóåö ßóÝóÑúäóÇ Èößõãú æóÈóÏóÇ ÈóíúäóäóÇ æóÈóíúäóßõãõ ÇáúÚóÏóÇæóÉõ æóÇáúÈóÛúÖóÇÁõ ÃóÈóÏðÇ ÍóÊøóì ÊõÄúãöäõæÇ ÈöÇááøóåö æóÍúÏóåõ …
“Sungguh bagi kalian suri tauladan yang baik pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya,tatkala mereka berkata kepada kaumnya: sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah dari selain Allah,kami mengingkari kalian dan telah nampak antara kami dan kalian kebencian dan permusuhan selama-lama-Nya hingga kalian beriman kepada Allah semat”.
(QS.Al-Mumtahanah:4)
Semoga Allah memberi taufiq,shalawat dan salam kepada Nabi kami Muhammad,keluarga,dan para sahabatnya.
Lajnah Daimah,untuk pembahasan ilmiyah dan fatwa
Pimpinan: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, Wakil ketua: Abdurrazzaq Afifi, Anggota: Abdullah Ghudayyan
Sumber : (Fatawa al-lajnah:3/no: 11168 terjemah oleh Al-Ustadz Abu Karimah Askari Hafizhahullah )
(Sumber http://www.salafybpp.com/index.php?option=com_content&view=article&id=90:hukum-memberi-ucapan-selamat-kepada-perayaan-orang-kafir&catid=31:nasehat-a-bantahan&Itemid=46)
http://www.salafy.or.id/?p=1728
Kedudukan Kitab “Fadha’il Al-A’mal” Kitab Rujukan Jama’ah Tabligh
Kedudukan kitab “fadha’il al-a’mal”, kitab rujukan utama jama’ah tabligh
Lajnah Daimah ditanya: Syaikh Muhammad Zakaria rahimahullah termasuk ulama yang paling masyhur di India dan Pakistan,khususnya dilingkungan jama’ah tabligh.Dia memiliki beberapa tulisan,diantaranya kitab “fadha’il al-a’mal”,dimana kitab ini dibanyakan dihalaqah-halaqah yang membahas agama dikalangan jama’ah tabligh.para anggota jama’ah ini meyakini kitab ini seperti “shahih bukhari”,dan yang semisalnya,dan dahulu akupun bersama mereka.Disaat sedang membaca kitab ini, aku mendapati banyak kisah-kisah yang diriwayatkan, yang terkadang sulit difahami dan meyakininya.Oleh karena itu,aku mengirim kepada lembaga kalian agar dapat memberi jalan keluar dari permasalahanku ini.
Diantara kisah ini adalah kisah yang diriwayatkan oleh Sayyid Ahmad Rifa’I,dimana dia berkata: tatkala dia selesai menunaikan ibadah haji, diapun mengunjungi kuburan Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam sambil melantunkan bait-bait syair berikut dan berdiri di depan kuburan Nabi Shallallahu alaihi wasallam sambil berkata:
ÝÜí ÍÇáÜÉ ÇáÈÚÜÏ ÑæÍí ßäÊ ÃÑÓáåÇ. . . . . . . . . . ÊÞÈÜÜá ÇáÃÑÖ Úäí æåí äÇÆÈÊí
æåÜÜÐå ÏæáÜÜÉ ÇáÃÔÈÇÍ ÞÏ ÍÖÑÊ. . . . . .. . . .. ÝÇãÏÏ íãíäÜß ßí ÊÍÙì ÈåÇ ÔÝÊí
Dikejauhan aku melepaskan ruhku
Bumipun menerimanya dan dia menjadi penggantiku
Inilah negeri orang-orang yang telah hadir
julurkanlah tanganmu agar bibirku mendapat bagian darinya
Setelah membaca bait-bait ini,keluarlah tangan kanan Rasul Shallallahu alaihi wasallam, lalu akupun menciumnya. (Al-Hawi,As-Suyuthi).
Dan dia menyebutkan bahwa ada Sembilan puluh ribu muslim yang telah melihat kejadian besar ini,dan mereka dimuliakan dengan mengunjungi tangan yang memiliki berkah itu.Diantara mereka adalah Syaikh Abdul Qadir Jaelani rahimahullah.Yang waktu itu berada di masjid nabawi yang mulia adalah bangunan yang inggi.Maka berkenaan dengan kisah ini,aku ingin bertanya kepada kalian:
1. Apakah kisah ini memiliki asal,atau tidak ada hakekatnya?
2. Apa menurut kalian tentang kitab “Al-Hawi” karya As-Suyuthi,dimana dia menetapkan adanya kisah ini?
3. Jika kisah ini tidak benar, apakah boleh shalat dibelakang imam yang meriwayatkan kisah ini dan meyakini kebenarannya? Apakah sah keimamahannya atau tidak?
4. Apakah boleh membaca kitab-kitab seperti ini dihalaqah-halaqah agama di masjid-masjid? Dimana kitab ini dibacakan dimasjid-masjid di Britania oleh kaum jama’ah tabligh ,dan juga sangat masyhur di kerajaan Arab Saudi,khususnya di Madinah Munawwarah,dimana penulis kitab ini hidup lama di Madinah Munawwarah.Saya berharap kepada para Syaikh yang mulia agar memberi faedah kepada kami dengan jawaban yang cukup dan terperinci,agar saya dapat menerjemahkannya kedalam bahasa negeri setempat lalu menyebarkanya kepada para sahabat dan temanku,dan kaum muslimin lainnya yang saya berbincang dengannya dalam pembahasan ini?
Lajnah menjawab:
åÐå ÇáÞÕÉ ÈÇØáÉ áÇ ÃÓÇÓ áåÇ ãä ÇáÕÍÉ º áÃä ÇáÃÕá Ýí ÇáãíÊ äÈíÇ ßÇä Ãã ÛíÑå Ãäå áÇ íÊÍÑß Ýí ÞÈÑå ÈãÏ íÏ Ãæ ÛíÑåÇ ¡ ÝãÇ Þíá ãä Ãä ÇáäÈí Õáì Çááå Úáíå æÓáã ÃÎÑÌ íÏå ááÑÝÇÚí Ãæ ÛíÑå ÛíÑ ÕÍíÍ ¡ Èá åæ æåã æÎíÇá áÇ ÃÓÇÓ áå ãä ÇáÕÍÉ ¡ æáÇ íÌæÒ ÊÕÏíÞå ¡ æáã íãÏ íÏå Õáì Çááå Úáíå æÓáã áÃÈí ÈßÑ æáÇ ÚãÑ æáÇ ÛíÑåãÇ ãä ÇáÕÍÇÈÉ ÝÖáÇ Úä ÛíÑåã ¡ æáÇ íÛÊÑ ÈÐßÑ ÇáÓíæØí áåÐå ÇáÞÕÉ Ýí ßÊÇÈå : (ÇáÍÇæí) º áÃä ÇáÓíæØí Ýí ãÄáÝÇÊå ßãÇ ÞÇá ÇáÚáãÇÁ Úäå : ÍÇØÈ áíá íÐßÑ ÇáÛË æÇáÓãíä ¡ æáÇ ÊÌæÒ ÇáÕáÇÉ ÎáÝ ãä íÚÊÞÏ ÕÍÉ åÐå ÇáÞÕÉ áÃäå ãÕÏÞ ÈÇáÎÑÇÝÇÊ æãÎÊá ÇáÚÞíÏÉ ¡ æáÇ ÊÌæÒ ÞÑÇÁÉ ßÊÇÈ (ÝÖÇÆá ÃÚãÇá) æÛíÑå ããÇ íÔÊãá Úáì ÇáÎÑÇÝÇÊ æÇáÍßÇíÇÊ ÇáãßÐæÈÉ Úáì ÇáäÇÓ Ýí ÇáãÓÇÌÏ Ãæ ÛíÑåÇ º áãÇ Ýí Ðáß ãä ÊÖáíá ÇáäÇÓ æäÔÑ ÇáÎÑÇÝÇÊ Èíäåã .
äÓÃá Çááå ÚÒ æÌá Ãä íæÝÞ ÇáãÓáãíä áãÚÑÝÉ ÇáÍÞ æÇáÚãá Èå Åäå ÓãíÚ ãÌíÈ . æÕáì Çááå Úáì äÈíäÇ ãÍãÏ æÂáå æÕÍÈå .
“ini adalah kisah yang batil yang tidak ada landasan kebenarannya sama sekali,sebab asal hukum orang yang telah mati apakah dia seorang nabi atau bukan bahwa dia sudah tidak bergerak dalam kuburannya,apakah dengan menjulurkan tangannya atau yang lainnya.Adapun yang disebutkan bahwa Nabi Shallallahu alaihi wasallam mengeluarkan tangannya kepada Rifa’I atau yang lainnya,tidaklah benar. Bahkan ini merupakan khayalan yang tidak ada landasan kebenarannya, dan tidak boleh membenarkannya.Nabi Shallallahu alaihi wasallam tidak pernah menjulurkan tangannya kepada Abu Bakar,Umar ,tidak pula selain keduanya dari kalangan para sahabat,terlebih lagi selain mereka.Jangan pula tertipu dengan penyebutan Suyuthi terhadap kisah ini dalam kitabnya (Al-Hawi) , sebab Suyuthi dalam tulisan-tulisannya seperti yang disebutkan para ulama: hathibul lail (pencari kayu bakar dimalam hari)1 , dia menyebut yang kurus dan yang gemuk (tidak memperhatikan kebenaran apa yang dinukilnya,pen), dan tidak diperbolehkan shalat dibelakang orang yang meyakini kebenaran kisah ini sebab dia meyakini perkara-perkara khurafat ini dan ada kerusakan dalam akidahnya, dan tidak boleh pula membacakan kepada manusia kitab “fadha’il al-a’mal” dan yang lainnya dari kitab yang mengandung berbagai khurafat dan cerita-cerita palsu di masjid-masjid atau yang lainnya,sebab yang demikian menyebabkan tersesatnya manusia dan tersebarnya perkara khurafat dikalangan diantara mereka.
Kami memohon kepada Allah Azza wajalla agar memberi taufik kepad kaum muslimin untuk mengenal kebenaran dan mengamalkannya. Sesungguhnya Dia maha mendengan dan maha mengabulkan. Shalawat dan Salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu alaihi wasallam ,keluarga dan para sahabatnya.
Lajnah Daimah untuk pembahasan ilmiah dan fatwa
Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah Alus Syaikh
Anggota: · Abdullah Ghudayyan, · Saleh Al-Fauzan, Bakr Abu Zaid,
(lajnah Daimah fatwa No:21412)
Sumber: http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=358796
(Sumber : http://www.salafybpp.com/index.php?option=com_content&view=article&id=69:kedudukan-kitab-qfadhail-al-amalq-kitab-rujukan-jamaah-tabligh&catid=31:nasehat-a-bantahan&Itemid=46)
http://www.salafy.or.id/?p=1731
Keutamaan Para Sahabat
oleh Abu Muawiah
Di antara ushul akidah ahlissunnah wal jamaah adalah mencintai para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam, at-taradhdhi (mengucapkan ‘radhiallahu anhu’) untuk mereka, meyakini bahwa mereka adalah manusia terpercaya, serta berusaha untuk menyebarkan keutamaan mereka kepada kaum muslimin. Ahlussunnah juga tidak larut memperbincangkan perselisihan yang terjadi di antara mereka, dan berlepas diri dari semua sekte yang membenci dan merendahkan sahabat dan ahlul bait. Yaitu Rafidhah yang sampai menuhankan ahlul bait dan mengkafirkan sahabat lainnya, serta Nashibah yang membenci ahlul bait Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Nash-nash Al-Qur`an telah menjadi saksi akan keutamaan mereka dan terpercayanya mereka dalam memikul agama. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala:
والسابقون الأولون من المهاجرين والأنصار والذين اتبعوهم بإحسان رضي الله عنهم ورضوا عنه وأعد لهم جنات تجري تحتها الأنهار خالدين فيها أبدا ذلك الفوز العظيم
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)
Ayat di atas menunjukkan bahwa Allah Ta’ala telah meridhai para sahabat dari kalangan muhajirin dan anshar, serta Dia juga meridhai semua orang sepeninggal mereka yang mengikuti jejak mereka dengan baik. Allah Ta’ala juga memberikan kabar gembira kepada mereka seluruhnya bahwa mereka adalah penghuni surga lagi kekal di dalamnya. Dan siapa saja yang Allah Ta’ala telah ridhai maka dia tidak akan meninggal dalam keadaan kafir, akan tetapi dia pasti meninggal dalam keadaan mempunyai iman yang sempurna dan dia pasti termasuk penghuni surga. Karenanya sebagian ulama ada yang berdalil dengan ayat di atas untuk menyatakan bahwa para sahabat -secara umum- telah dijamin masuk surga, wallahu a’lam.
Ayat di atas juga sebagai sanggahan telak kepada rafidhah yang berkeyakinan kafirnya para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam sepeninggal beliau, dan semua dalil yang menyatakan keutamaan mereka adalah mansukh (terhapus hukumnya). Maka jawabannya sebagaimana di atas bahwa tatkala Allah Ta’ala Maha Mengetahui segala sesuatu di masa yang akan datang, maka pastilah semua orang yang Dia ridhai pastilah akan meninggal dalam keadaan mukmin.
Dalam ayat yang lain Allah Azza wa Jalla berfirman:
لقد رضي الله عن المؤمنين إذ يبايعونك تحت الشجرة فعلم مافي قلوبهم فأنزل السكينة عليهم وأثابهم فتحا قريبا
“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (QS. Al-Fath: 18)
Dalam dari hadits Jabir radhiallahu anhu: Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
لَا يَدْخُلُ النَّارَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنْ أَصْحَابِ الشَّجَرَةِ أَحَدٌ الَّذِينَ بَايَعُوا تَحْتَهَا
“Insya Allah tidak akan masuk ke dalam neraka seorang pun dari orang-orang yang turut serta berbai’at di bawah pohon.” (HR. Muslim no. 4552)
Dan kalimat ‘insya Allah’ di sini bukanlah harapan akan tetapi maknanya ‘pemastian’. Karenanya hadits di atas menunjukkan pastinya mereka masuk surga.
Dalil lain yang menunjukkan keutamaan mereka adalah hadits Jabir radhiallahu anhu: dia berkata:
قَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْحُدَيْبِيَةِ أَنْتُمْ خَيْرُ أَهْلِ الْأَرْضِ. وَكُنَّا أَلْفًا وَأَرْبَعَ مِائَةٍ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada kami pada peristiwa Hudaibiyyah: “Kalian adalah sebaik-baiknya penduduk bumi.” Saat itu kami berjumlah seribu empat ratus orang.” (HR. Al-Bukhari no. 3839)
Juga firman Allah Ta’ala:
لايستوي منكم من أنفق من قبل الفتح وقاتل أولئك أعظم درجة من الذين أنفقوا من بعد وقاتلوا وكلا وعد الله الحسنى والله بما تعملون خبير
“Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hadid: 10)
Karenanya, siapa saja yang pernah bersahabat dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam dan meninggal di atas keimanan kepada Allah, maka Allah Ta’ala telah menjanjikan surga untuknya.
Dalil yang lain adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam hadits Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya lagi.” (HR. Al-Bukhari no. 2458 dan Muslim no. 4601)
Semua dalil-dalil di atas memuji sahabat secara umum tanpa menyebutkan individunya. Di sisi lain, ada juga beberapa hadits yang memuji individu tertentu di antara sahabat. Di antaranya adalah hadits Abdurrahman bin Auf bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
أَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِي الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِي الْجَنَّةِ وَعَلِيٌّ فِي الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِي الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ فِي الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِي الْجَنَّةِ وَسَعْدٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَعِيدٌ فِي الْجَنَّةِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فِي الْجَنَّةِ
“Abu Bakar masuk surga, Umar masuk surga, Utsman masuk surga, Ali masuk surga, Thalhah masuk surga, Zubair masuk surga, Abdurrahman bin ‘Auf masuk surga, Sa’ad (bin Abi Waqqash) masuk surga, Said (bin Zaid) masuk surga dan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah masuk surga.” (HR. At-Tirmizi no. 3680)
Penyebutan 10 orang sahabat yang dijamin masuk surga ini tidaklah menunjukkan pembatasan. Karena telah shahih dalil hadits yang lain dimana Nabi shallallahu alaihi wasallam menjamin masuk surga untuk sahabat lainnya. Seperti kabar dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa Qais bin Tsabit radhiallahu anhu masuk surga, dan haditsnya diriwayatkan oleh Al-Bukhari. Sebagaimana Al-Bukhari juga meriwayatkan pemastian masuk surganya Abdullah bin Salaam radhiallahu anhu.
Barang siapa yang mengamati sirah dan perjalanan hidup para sahabat beserta berbagai keutamaan yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada mereka seperti iman kepada Allah dan Rasul-Nya, berjihad dan berhijrah di jalan-Nya, menolong agama dan Nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam, ilmu yang bermanfaat dan amalan saleh. Siapa yang mengamati seluruh keadaan mereka di atas, niscaya dia akan mengetahui secara yakin bahwasanya mereka adalah makhluk yang terbaik setelah para nabi, bahwa sanya mereka adalah manusia pilihan dari umat ini, dan bahwasanya mereka adalah makhluk yang paling mulia di sisi Allah.
Seandainya tidak ada satupun dalil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah yang memuji mereka, maka keadaan mereka -berupa hijrah, jihad, menolong agama, mengerahkan harta dan nyawa untuk membela agama, kekuatan iman dan yakin, dan seterusnya- tentulah mengharuskan kita untuk memastikan sifat terpercayanya mereka dan bahwa mereka adalah makhluk yang lebih utama dibandingkan semua makhluk setelah mereka.
Inilah mazhab ahlussunnah dalam menyikapi para sahabat radhiallahu anhum. Adapun selain mereka dari kalangan penganut bid’ah dan kesesatan, maka mereka melemparkan celaan dan kebencian kepada para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam atau kepada sebagian di antara mereka. Padahal Nabi shallallahu alaihi wasallam telah bersabda:
لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ
“Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya jikalau salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebanyak bukit uhud, maka pahalanya itu tidak akan menyamai pahala sedekah 1 mudd satu orang di antara mereka, bahkan tidak pula setengahnya.” (HR. Al-Bukhari no. 3397 dan Muslim no. 4610)
1 mudd seukuran dua telapak tangan lelaki dewasa.
Imam Al-Auzai rahimahullah berkata, “Jika engkau melihat seseorang mencela seorangpun di antara sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka ketahuilah dia itu adalah zindiq. Hal itu karena Ar-Rasul shallallahu alaihi wasallam di mata kami adalah kebenaran dan Al-Qur`an juga adalah kebenaran. Sementara tidak ada yang menyampaikan kepada kita Al-Qur`an dan sunnah ini kecuali para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Yang mereka inginkan dari mencela para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak lain kecuali karena mereka ingin mengkritisi para saksi (agama) kita sehingga mereka bisa membatalkan Al-Kitab dan sunnah. Padahal kritikan itu lebih pantas diarahkan kepada mereka, dan mereka ini adalah orang-orang zindiq.”
Ucapan Al-Auzai rahimahullah di atas menunjukkan bahwa tujuan sebenarnya dari penganut bid’ah ketika mereka mencela sahabat adalah untuk mencacati Al-Kitab dan sunnah. Karena Al-Kitab dan sunnah dinukil kepada kita dari jalur para sahabat radhiallahu anhum. Karenanya serangan kepada para sahabat atau salah seorang dari mereka sebenarnya adalah serangan kepada Al-Kitab dan sunnah.
Dan bisa-bisanya mereka mencela para sahabat radhiallahu anhum, sementara mereka adalah sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam di dunia dan di akhirat. Dari Ubadah bin Ash-Shamit radhiallahu anhu bahwa suatu malam para sahabat pergi mencari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Setelah bertemu beliau, mereka berkata:
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَشْفَقْنَا أَنْ يَكُونَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى اخْتَارَ لَكَ أَصْحَابًا غَيْرَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا بَلْ أَنْتُمْ أَصْحَابِي فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
“Wahai Rasulullah! Kami sempat khawatir jangan-jangan Allah Tabaaroka wa Ta’aalaa memilih sahabat-sahabat lain selain kami untuk anda. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak, kalian adalah sahabat-sahabatku di dunia dan akhirat.” (HR. Ahmad no. 21708 dengan sanad yang shahih).
http://al-atsariyyah.com/keutamaan-para-sahabat.html
Salahkah Menembak Mati Tentara GAM ?
Tanya
Saya seorang tentara, ketika di Aceh saya sering menembak mati orang-orang GAM, mereka sering mengucapkan takbir, sampai saat ini saya masih gundah. Dalam pikiran saya mereka juga Islam.Bila saya tidak tembak maka saya yg ditembak, siapa yang salah ?
Dijawab oleh Al Ustadz Ja’far Shalih
Yang salah adalah yang memberontak. Yang memberontak pada pemimpin yang sah. Dan seorang muslim,tidak mesti dibunuh dikarenakan kekufuran. Ada yang dibunuh karena berzina. Muslim yang muhshon (sudah menikah), kemudian berzina, maka dibunuh dengan rajam. Begitu pula Al Mufariqu lil Jama’ah (yang berpisah dari jama’ah kaum muslimin), yaitu yang memberontak, mereka itu bughot (para pemberontak). Dan anda tidak salah apabila anda ditugaskan untuk menembak mereka.Ditranskrip dari rekaman tanya jawab dengan Al Ustadz Ja’far Shalih
http://www.4shared.com/file/95356124/430bd857/Tanya_Jawab_Pekan_ke-3_Ustadz_Jafar_Sholeh.html
http://tashfiyah.net/?p=224 Baca Selengkapnya......




